Bahasa merupakan kekuatan (language is power) dan sangat berperandalam mencapai tujuan nasional maupun internasional suatu bangsa. Bahasa membentuk suatu ikatan sosial melalui interaksi dan proses salingmempengaruhi penggunanya. Penyebaran bahasa (di dunia) menunjukkanbahwa bangsa tersebut telah menguasai (dunia). Bagaimana dengan Bahasa Indonesia ?
Pada jaman penjajahan Jepang, pengerahan segala orang dan tenaga dari bangsa Indonesia dalam sebuah peperangan, membuat bangsa Jepang menggunakan Bahasa Indonesia untuk propaganda guna mencapai tujuan dengan cepat. Saat itu, dengan menyisihkan bahasa daerah, penggunaan bahasa Indonesia mencapai masyarakat sampai ke pelosok desa-desa di pegunungan dan pulau-pulau terpencil. Akibatnya, bangsa Indonesia memperoleh keuntungan dalam menyebarluaskan bahasa Indonesia yang berperan sebagai alat perjuangan bangsa yaitu untuk menyatukan gerak dan langkah dalam memperjuangkan cita-cita kemerdekaan bangsa. Saat ini, hanya bahasa Indonesia yang masih tersisa sebagai perekat bangsa. Sementara keutuhan satu nusa sedang digoyang terbukti dengan lepasnya Timor Timor, Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), sedangkan satu bangsa sedang digugat kesahihannya dengan munculnya keinginan untuk melepaskan diri dari NKRI seperti Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
Bahasa merupakan sarana dan pencerminan keterikatan sosial dan kesatuan bangsa. Bahasa adalah komunikasi budaya yang penting karena menjelaskan kebudayaan pemakai
bahasa tersebut dan membudayakannya sendiri melalui penggunaannya. Apapun tradisi, apapun kreasi, apapun hasil kebudayaan yang kita miliki, dapat segera punah dan berganti,
kecuali satu yaitu bahasa. Bahasa memiliki durasi yang jauh lebih panjang bila dibandingkan dengan produk-produk peradaban lainnya. Dengan bahasalah, suatu bangsa menitipkan seluruh harapan, obsesi/mimpi, kenyataan, ketakutan, maupun protes-protesnya dalam kehidupan, sehingga bahasa menjadi vital dalam hidup kita bahkan kini menjadi senjata karena kita dapat menentukan bahkan menguasai seseorang atau sebuah bangsa, hanya dengan berkomunikasi melalui bahasa. Melalui bahasa, manusia menyatakan identitas dan pengertiannya terhadap lingkungan serta menggunakannya sebagai alat pengolahan masalah dalam mengambil keputusan dan untuk mempengaruhi orang lain.
Sebagai contoh bahwa sebuah rencana disampaikan, biasanya dibumbui, dengan perkataan yang lemah lembut, mulut manis yang berbisa dan rayuan yang menggoyahkan keimanan sehingga pendengar/pembaca terpedaya dibuatnya dan akan membuat keputusan atau mengambil tindakan yang salah misalnya seperti dalam kisah Nabi Yusuf (QS : 12 : 20). Jika ditinjau dari proses terjadi dan perkembangannya, bahasa Indonesia bukan terjadi dan berkembang menurut hukum perkembangan bahasa dan pemakai Bahasa terbanyak, melainkan berkembang melalui proses sosiokultural berlandasan perjuangan bangsa yang sifatnya politis. Sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia berfungsi sebagai alat komunikasi yang merujuk ke kebudayaan nasional, kebudayaan Indonesia. Kita harus memanfaatkannya dalam mempertahankan NKRI karena makin sering bahasa dipergunakan makin eratlah hubungan sosial antara pemakai bahasa yang sama. Walaupun perkembangan bahasa saat ini, menurut Herbert Marcuse (1898 – 1979), sudah diperkosa penggunaannya, dibatasi pengertian-pengertian istilahnya, diabdikan buat kepentingan penguasa dan pengusaha.
Hal tersebut dapat dilihat penggunaan bahasa pada surat kabar. Surat kabar hanya menggunakan kalimat dengan struktur yang mementingkan unsur siapa orang yang menjadi berita. Padahal penyampaian berita baik secara lisan maupun tulisan dalam sebuah wacana memiliki konteks yang ingin dibangun dengan pendengar atau pembacanya karena wacana dipandang sebagai ruang sosial, representasi pengalaman, dan dunia interaksi sosial antar partisipan secara serempak terjadi. Wacana sebagai alat komunikasi tidak terlepas dari kepentingan dan afiliasi pada kelompok atau golongan. Penulis atau penutur akan terikat pada budaya, ideologi, dan institusi media elektronik atau cetak misalnya surat kabar, radio dan sebagainya, dalam menyampaikan gagasan. Sementara itu pendengar/pembaca cenderung berpikir pragmatis untuk menunjang kebutuhannya karena memiliki sifat dasar sebagai makhluk yang sangat kompleks, terbuka terhadap segala macam pengaruh dan tidak pernah puas, kebutuhannya selalu berkembang.
Penggunaan bahasa terpengaruh oleh kepentingan pemberitaan. Pemberitaan tercermin dari sikap jurnalis yang didasari nilai-nilai ideologi tertentu dan dapat dilihat pada pemakaian bahasa dalam berbagai aspeknya yaitu strategi penyajian informasi. Ada 4 sudut pandang sebagai manifestasi dari nilai, pengetahuan, dan perspektif yang dianut, yaitu pro masyarakat, pro pemerintah, netral, dan yang lain (agama dijadikan satu dasar sudut pandang). Perspektif tersebut akan tampak jelas pada pemberitaan terutama pada iklan.
Tony Schwars dalam « The Responsive Chord » menyatakan iklan memiliki kekuatan ideologis untuk membangkitkan respon yang tidak disadari masyarakat. Hal ini terjadi karena dalam iklan, bahasa yang digunakan bersifat membujuk menanamkan gambaran-gambaran tertentu dan menghipnose pembaca atau pendengar secara jelas dan nyata, untuk membeli. Gaya dan jenis kata yang digunakan disertai dengan gambar-gambar kongkret tertentu kerap dipakai dalam iklan, jelas-jelas menyerang kompetitor, bersifat mengikat.
Bahasa iklan yang bersifat familier sekali membuat orang dengan spontan menyesuaikan diri atau terpengaruh dan membenarkan informasi yang disampaikan. Bahasa iklan mengungkapkan kebenaran sejujurnya tanpa mengharapkan jawaban atau komentar karena sejak awal diproyeksikan agar tidak ada bantahan terhadapnya. Gaya dan jenis kata
pada iklan sebenarnya biasa, namun kesan yang ditimbulkannya harus mampu disetujui setiap orang yang membacanya. Makin pandai dan halus tujuannya yang terjalin dalam bahasa dan permainan tata bahasa sebagai tekniknya, makin tinggi nilai budayanya. Permainan bahasa sangat mengasikkan terutama untuk mempengaruhi orang lain. Permainan bahasa sebaiknya dilakukan berdasarkan Filsafat analitis (analisa bahasa) dengan menekankan segi kejelasan, ketepatan dan kesederhanaan dalam pemakaian bahasa, dengan melarang pemakaian istilah-istilah yang abstrak dan yang tidak bisa diverifisir, dengan menjadikan bahasa sehari-hari sebagai kerangka referensi, dan dengan adanya penggolongan macam-macam ujaran berdasarkan situasi sosialnya. Filsafat analitis mencegah timbulnya pemikiran-pemikiran konseptual yang bermaksud mentransendir kenyataan yang ada, tidak memberi ruang gerak untuk « negasi » mengorbankan hak dan kebebasan orang untuk berpikir dan berbicara lain dari apa yang sudah lazim.
Bahasa memang universal, tetapi tetap saja memiliki kata-kata khusus yang sulit dipahami jika tidak mengenal lingkungan dan cara berpikir pemakai suatu bahasa. Hal tersebut dapat diatasi dengan belajar bahasa, yaitu suatu cara untuk memahami permainan bahasa agar lebih berhati-hati dalam mendengar atau membaca berita. Belajar bahasa tidak hanya sekedar menggunakannya saja tetapi mempelajari kebudayaannya juga. Tidak heran kalau seseorang sulit menguasai suatu bahasa jika tidak mengenal lingkungan dan latar belakang pengguna bahasa tersebut sehingga memiliki kecenderungan menolak bahasa lain.
Hal ini terdapat lebih banyak pada orang-orang yang hanya mengenal satu bahasa selama hidupnya bahkan menjadi « chauvinist ». Sebaliknya, Seseorang yang telah menguasai satu bahasa akan memiliki pengalaman dalam mengenal dan membandingkan aspek-aspek bahasa sehingga membuat dirinya cenderung untuk tidak menolak sesuatu yang berbeda dari bahasa sendiri. Penelitian Peal dan Lambert serta Lambert Anisfield menyiratkan bahwa dwibahasawan lebih terbuka dalam menerima sesuatu yang berbeda, didukung teori Taylor (1976) dan Weinreich (1953) yang menyatakan bahwa pengalaman yang didapat dari belajar dua bahasa merupakan modal untuk belajar bahasa lain (disimpulkan bahwa dwibahasawan memiliki kelebihan yang menguntungkan daripada ekabahasawan.)
Penguasaan bahasa merupakan salah satu tingkah manusia bahkan suatu cermin tingkah laku karena bahasa adalah alat komunikasi kegiatan di dalam kebudayaan. Oleh karena itu, perlu disadari bahwa bahasa merupakan salah satu « kunci » dalam menunjang keberhasilan dalam mencapai tujuan. Bila dikaitkan dengan pelaksanaan tugas, beberapa kerugian yang ditimbulkan karena kurang memahami bahasa suatu bangsa, antara lain :
1) Komunikasi tidak berjalan dengan baik dan dapat terjadi miskomunikasi sehingga berpengaruh pada tingkat keberhasilan pelaksanaan tugas, bahkan dapat berakibat fatal.
2) Fungsi diplomasi tidak dapat dikembangkan dengan baik disebabkan kurangnya memahami jiwa/adat istiadat masyarakat setempat.
3) Pergaulan dan persahabatan antar anggota masyarakat tidak terbina secara maksimal, bahkan timbul sikap rendah diri dan menarik diri dari pergaulan.
4) Fasilitas yang ada tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal, antara lain karena tidak mengerti prosedur dan enggan bertanya atau berkomunikasi.
Agar terhindar dari kerugian di atas, maka kewajiban untuk turut membina dan mengembangkan kemampuan bahasa dapat dilaksanakan melalui lembaga-lembaga pendidikan seperti Pusdiklat Bahasa Badiklat Dephan di Lingkungan Dephan/TNI yang memiliki program diklat bahasa untuk kepentingan pertahanan negara.
Penggunaan bahasa didasari oleh pengetahuan yang baik tentang bahasa tersebut akan tersebar luas karena seorang meniru orang lain dengan kata lain orang terus menggunakannya tanpa mengetahui benar atau tidaknya bahasa yang digunakan. Agar dapat menguasai bahasa dengan baik perlulah perhatian terus menerus terhadap bahasa itu karena bahasa menunjukkan bangsa (bahasa menjadi lambang eksistensi dan ciri identitas suatu bangsa). Ini berarti bahwa bahasa merupakan salah satu wujud kepribadian bangsa, yang membedakan dari bangsa-bangsa lainnya. Sebagai pencinta bahasa nasional adalah wajar apabila kita berusaha mempergunakan bahasa Indonesia sebaik-baiknya dan mengusahakan agar orang lain juga berbahasa dengan baik, tanpa kesalahan sedikitpun. Penggunaan Bahasa yang baik dan benar akan membuat lebih dekat perasaan kita satu sama lain sehingga pada suatu ketika, mempunyai satu warna yaitu warna kepribadian bangsa yang bersatu bulat.
Source : Drs. R. Okta Kurniawan, MM., Warta Dephan RI Vol. 15  No. 1 edisi Mei – Juni 2003.