Kalimat Efektif  vs  Kalimat Tidak Efektif
 
 
Menyusun kalimat panjang biasanya tidaklah mudah. Apalagi apabila ada beberapa pelengkap dan atau keterangan di dalam satu kalimat. Kita harus tahu menempatkan bagian pelengkap dan atau keterangan itu pada tempatnya yang tepat agar makna kalimat tetap jelas. Penempatan bagian kalimat secara salah dapat mengaburkan makna kalimat atau malah mengubah maknanya menjadi lain.
Perhatikan kalimat di bawah ini :
(1) Usul ini merupakan suatu perkembangan yang menggembirakan untuk memulai pembicaraan damai antara GAM dan pemerintah yang gagal.
(2) Usul ini merupakan suatu perkembangan yang menggembirakan untuk memulai kembali pembicaraan damai yang gagal antara GAM dan pihak pemerintah.
(3) Usul ini merupakan suatu perkembangan yang menggembirakan untuk memulai kembali pembicaraan damai antara pihak GAM dan pihak pemerintah. Pembicaraan damai ini pada masa lalu telah berakhir dengan kegagalan.
Kalimat di atas memiliki dua gagasan yaitu (a) memulai kembali pembicaraan damai, dan (b) pembicaraan damai yang gagal. Bila kita hubungkan dengan konteks yang ada, dua diantaranya merupakan kalimat tidak efektif karena kalimat tersebut memunculkan ingar.
Ketiga kalimat di atas memiliki makna yang berbeda. kalimat (1) memuat dua gagasan tersebut ke dalam satu kalimat sehingga makna yang ingin disampaikan tidak sesuai dengan gagasan awal, sedangkan pada kalimat (2) merupakan perbaikan dari kalimat (1), namun bukan memulai pembicaraan damai yang baru, tetapi memulai pembicaraan damai yang gagal pada masa lalu. Hal ini mengakibatkan pesan yang disampaikan tidak dapat dimengerti dan mengundang pertanyaan. Oleh karena itu kalimat (3) sangat dianjurkan dalam menyampaikan kedua gagasan tersebut karena dalam satu kalimat hanya memuat satu gagasan.
Kalimat yang baik pertama sekali haruslah memenuhi persyaratan gramatikal. Ini berarti kalimat itu harus disusun berdasarkan kaidah-kaidah yang berlaku. Kaidah-kaidah tersebut meliputi : (a) unsur-unsur penting yang harus dimiliki setiap kalimat, (b) aturan-aturan tentang Ejaan Yang Disempurnakan, dan (c) cara memilih kata dalam kalimat (diksi).
Kalimat yang benar dan jelas akan dengan mudah dipahami orang lain secara tepat. Kalimat yang demikian disebut kalimat efektif. Kalimat efektif ialah kalimat yang baik karena apa yang dipikirkan atau dirasakan oleh si pembicara (si penulis dalam bahasa tulis) dapat diterima dan dipahami oleh pendengar (pembaca dalam bahasa tulis) sama benar dengan apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh si Penutur (atau si penulis) itu. Sebuah kalimat efektif haruslah memiliki kemampuan untuk menimbulkan kembali gagasan-gagasan pada pikiran pendengar atau pembaca seperti apa yang terdapat pada pikiran penulis atau pembicara. Hal ini berarti bahwa kalimat efektif haruslah disusun secara sadar untuk mencapai daya informasi yang diinginkan penulis terhadap pembacanya. Bila hal ini tercapai diharapkan pembaca akan tertarik kepada apa yang dibicarakan dan tergerak hatinya oleh apa yang disampaikan itu.
Sebuah kalimat dikatakan efektif apabila mencapai sasarannya dengan baik sebagai alat komunikasi dan memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
 
1.          Kesepadanan dan kesatuan antara pikiran (gagasan) dan struktur bahasa yang dipakai, atau sebuah kalimat yang mengandung satu atau lebih ide pokok, dalam penyusunannya tidak dikacaukan oleh susunan gramatikal yang salah. Kesepadanan dan kesatuan kalimat dapat dilihat berdasarkan ciri-ciri berikut : (a) Subjek dan Predikat, (b) Kata penghubung intrakalimat dan antarkalimat, (c) Gagasan pokok, (d) Penggabungan dengan “yang”, “dan”, (e) Penggabungan menyatakan “sebab” dan “waktu”, dan (f) Penggabungan kalimat yang menyatakan hubungan akibat dan hubungan tujuan. Perhatikan kalimat berikut ini :
(4) Di kota-kota besar di Indonesia, terbukti, sudah memiliki Perguruan Tinggi swasta yang berafiliasi pada sebuah Perguruan Tinggi di mancanegara.
(5) Astri baru saja pulang berlibur dari Singapura. Sedangkan Tantri baru saja berangkat berlibur ke New York.
(6) Di dalam keputusan itu mengandung kebijaksanaan yang dapat menguntungkan umum.
            Setiap kalimat harus memiliki struktur yang benar dan jelas. Setiap kata atau kelompok kata harus jelas fungsinya. Pada kalimat di atas, kata di, di dalam harus dihilangkan dan konjungsi sedangkan tidak dapat diletakkan pada awal kalimat, agar kalimat tersebut menjadi jelas dan padu. Perhatikan kalimat di bawah ini :
(7) Kota-kota besar di Indonesia, terbukti, sudah memiliki Perguruan Tinggi swasta yang berafiliasi pada sebuah Perguruan Tinggi di mancanegara.
(8 ) Astri baru saja pulang berlibur dari Singapura, sedangkan Tantri baru saja berangkat berlibur ke New York.
(9) Keputusan itu mengandung kebijaksanaan yang dapat menguntungkan umum.
 
2.          Kesejajaran bentuk kata yang digunakan dalam kalimat. Penggunaan bentuk-bentuk bahasa yang sama atau konstruksi bahasa yang sama yang dipakai dalam susunan serial. Jika bentuk pertama menggunakan ungkapan verbal (bersifat kata kerja), misalnya, bentuk kedua, dan selanjutnya juga harus menggunakan bentuk verbal. Perhatikan contoh berikut  :
(10) Kesadaran masyarakat meningkat terhadap penyakit AIDS yang berbahaya dan mengerikan, sebab belum ditemukan pencegahan dan cara pengobatannya.
            Bentuk yang dipakai untuk kata-kata yang sederajat dalam kalimat di atas harus sama (pararel) sehingga kalimat itu kita tata kembali menjadi kalimat di bawah ini :
(11) Kesadaran masyarakat meningkat terhadap penyakit AIDS yang membahayakan dan mengerikan, sebab belum ditemukan pencegahan dan pengobatannya.
 
3.          Penekanan dalam kalimat, dilakukan dalam upaya menonjolkan ide pokok kalimat. Penonjolan ini memberikan ketegasan atau Penekanan terhadap ide pokok. Cara untuk memberikan penekanan melalui : (a) posisi dalam kalimat, (b) urutan yang logis, dan (c) pengulangan kata.
Sebuah kalimat biasanya memberikan suatu kejadian atau peristiwa yang berurutan. Hendaknya diperhatikan agar urutannya tergambar dengan logis yang disusun secara kronologis, dengan penataan urutan yang makin lama makin penting atau dengan menggambarkan suatu proses. Perhatikan contoh berikut :
(12) Bukan hanya sekali, dua kali, atau tiga kali, melainkan sudah puluhan kali Iwan diajak orang tuanya tur keliling Eropa.
(13) Negeri ini sedang sakit, negeri ini sedang butuh pengobatan, negeri ini sedang butuh kasih sayang bangsanya, oleh karena itu peliharalah perdamaian.
Pada kalimat (12) dan (13) lebih jelas maksudnya dengan adanya pengulangan pada bagian kalimat yang dianggap penting.
 
4.          Kehematan dalam mempergunakan kata atau frase. Dalam ungkapan lain, menghindari kata-kata yang memang tidak diperlukan (kata-kata yang mubazir), asalkan tidak melanggar kaidah gramatikal. Pengunaan kata atau frase secara hemat dilakukan dengan cara sebagai berikut : (a) Pengulangan subjek kalimat, (b) Hiponimi, dan (c) Pemakaian kata depan “dari” dan “daripada”. Perhatikan contoh berikut :
(14) Para anggota DPR dari Jawa Timur mengadakan kunjungan ke Jawa Barat.
(15) Pada hari Senin minggu depan, Tim BPK akan mengawali kunjungannya ke sejumlah Satker di Pondok Labu, Jakarta Selatan, dengan mencarter kendaraan bus Hiba.
(16) Mereka turun ke bawah melalui tangga samping kantor.
            Kalimat (14), (15), (16) diperbaiki dengan menghilangkan kata dari, hari dan ke bawah.
 
5.          Kevariasian dalam menyusun kalimat dengan variasi tertentu agar tidak monoton dan membosankan. Variasi kalimat dimungkinkan oleh hal-hal berikut : (a) cara memulai kalimat dengan variasi pada pembukaan kalimat yang dapat dimulai dengan Subjek, Predikat, Frase, dan Kata modal, (b) panjang pendek kalimat, (c) jenis kalimat (d) kalimat aktif dan pasif, dan (e) kalimat langsung dan tidak langsung. Perhatikan contoh  berikut :
(17) Seorang anak berumur 7 tahun duduk berhadapan dengan seseorang. Ternyata ia sedang berlatih berbicara. Ditirukannya dengan sungguh-sungguh ucapan orang itu. Mulutnya kelihatan bergerak-gerak. Namun tidak terdengar suara dari bibirnya. Dengan sabar pelatih mengulang kembali ucapan-ucapannya. Si anak tetap berusaha tetapi gagal lagi. Lelah sekali ia tampaknya. Latihan pun segera dihentikan. (dikutip dari majalah “Aku Tahu”).
Variasi kalimat-kalimat yang diciptakan pada paragraf tersebut terasa lebih menyegarkan.
 
Susunan kata yang tak teratur, penggunaan kata berlebihan, penggunaan kata tak tepat makna, penggunaan kata yang tak tepat dalam kalimat, dapat membuat kalimat tidak efektif. Dan struktur yang baik saja karena taat pada kaidah bahasa belum menjamin keefektifan sebuah kalimat. Kalimat-kalimat panjang yang tidak efektif dalam media massa (surat kabar) sering membuat isi berita yang ditulis tidak mudah ditangkap maksudnya. Pembaca harus mengulangi lagi membaca kalimat itu untuk dapat memahaminya dengan baik. Oleh karena itu, menyusun kata dalam kalimat ada aturannya, karena itu tidak dapat semau kita. Apabila tidak, maka arti atau maksud kalimat “terganggu”, maksudnya makna kalimat itu tidak dapat dipahami atau pengertiannya agak kabur.
Pilihan kata yang tepat, sangat menentukan dalam pembentukan kalimat sehingga membuat kalimat lebih berdaya tarik. Jadi, dalam bertutur atau menulis, gunakanlah nalar sebaik-baiknya agar dapat dihasilkan kalimat yang logis dan tepat makna serta efektif. Kalimat seperti itu mudah dipahami oleh pendengar atau pembaca dan reaksi penerima memuaskan si penyampai informasi. Kelogisan makna menuntut kecermatan dalam pemakaian bahasa. Cermat memakai bahasa berarti dapat menyampaikan pesan, gagasan, ide, dan pemberitahuan dengan tepat. (rok)